Perjalanan Si Merah Jambu
| A |
dzan shubuh mengalun merdu memenuhi semua ruang di udara.Muadzin yang bersua perkasa melantunkan bait-bait adzan yang penuh makna.Suara adzan membangunkanku dari tidur malamku.Suara adzan adalah pengganti jam beker dalam kamarku.Mataku terbangun,kulirik jam beker mungil di atas meja dekat pembaringanku.Kulihat jarum jam singgah di kediaman angka empat.Aku mulai bergerak dan duduk sambil mendengarkan suara adzan yang bergema memanggil.Kutatap lagi jam beker,terlihat wajah cemburu dari jam beker kecilku.Aku tahu dia cemburu dengan suara adzan yang masih melantun indah.Ia mungkin merasa pekerjaannya telah diambil alih oleh suara adzan.Aku hanya tersenyum ringan melihat polah jam beker kesayanganku.Lucu sekali.Biarlah nanti juga lupa.Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.Kurasakan kesegaran dan kesejukan luar biasa mengelus wajah dan seluruh tubuhku yang tersiram air wudhu.Alhamdulillah,segala puji bagi Allah. Lalu aku membuka lemari tua yang berada di kamarku.Ku ambil peralatan shalatku dan kututup kembali pintu lemari tua itu.Ku menatap wajahku yang terpantul di cermin lemari tua.Aku tersenyum dan hatiku merasa berdebar.Kupakai mukena sambil mengharap bahwa harapanku nanti berjalan indah.Bismillahi.Aku langkahkan kakiku menuju panggilannya.
Matahari pagi mulai mengintip dari pembaringannya.Tatapan polos dan lugu terlihat di wajahnya yang tengah meluruskan sinarnya ke dunia.Aku harus bersegera menyiapkan keperluanku untuk kubawa dalam perjalanan nanti.Perjalanan merah jambu yang sudah kuharap-harapkan dari enam bulan yang lalu.Aku berjalan menuju dapur rumahku yang sempit.Kubuat nasi goreng ala Laila dengan penuh cinta.Jam dinding berlabuh di angka delapan.Ia mengingatkan waktu janjianku untuk pergi bersama Dimas.Dia lelaki yang aku taksir sudah lebih dari setengah tahun yang lalu.Dia adalah adik dari tetanggaku yang berasal dari kota Malang.Ia menetap di desaku untuk mencari pekerjaan.Alhamdulillah dia sudah bekerja di salah satu industri di sekitar tempat tinggal kami.Ia telah menetap disini satu setengah tahun yang lalu.Tepatnya ketika aku duduk di bangku SMA.Dan sekarang aku melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas swasta di Surabaya.Handphoneku berbunyi ada satu massage masuk.”sudah siap?”,pesan singkat yang membuat seluruh organ dalam tubuhku bergetar.Perasaan yang bercampur aduk.Segera ku balas pesannya dengan dada yang berdebar.”Iya kak?”.Delevered report.Haah...berarti sudah terkirim.Ayah dan ibuku berada di teras rumah.Ayah yang sedang sibuk mengikir gergaji tuannya dan ibu yang duduk menemani ayah.Ada perasaan takut dan malu mulai menyelinap dalam batinku.Tapi aku menepis perasaan itu karena ayah dan ibu telah memberiku izin untuk keluar bersama kak Dimas.Tak berapa lama kudengar suara motornya Kak Dimas mendekat ke rumah.Aku melihat diriku di kaca.Kemeja biru santai dengan hiasan bintang-bintang kecil serta kerudung abu-abu menambah rasa percaya diriku.Baju biru sengaja aku pilih karena terkesan memberiku semangat.Akhirnya dia sudah terlihat di depan rumah.Ku ambil tas creamku dan helm.Aku mencium tangan kedua orang tuaku.
Ibuku bersua”Hati-hati ya Dim...jangan ngebut di jalan!”,pesan Ibuku pada Kak Dimas.
“Baik Bu”jawab Kak Dimas penuh kelembutan dan rasa hormat.
Dalam perjalan, percakapan belum ada yang membuka.Mungkin ini karena perjalanan kami yang pertama.Meski sudah empat bulan kita dekat alias mencoba melakukan pendekatan personal dan kepribadian.Meski dalam perjalannya kita bisa akrab namun masih belum melelehkan suasana ini.Akhirnya terdengar suaranya membuka suasana yang canggung ini.
“Gimana?,Tadi malam bisa tidur nyenyak?”
“Iya kak,karena mataku sudah berat alias ngantuk jadi bisa tidur setelah kita mengakhiri pesan singkat tadi malam”
“Bagaimana dengan kakak?”,tanyaku dan akhirnya selama perjalanan kami tak henti-hentinya bertukar cerita.Dari candaan ringan sampai candaan yang menggeliti isi perutku hingga tak henti-hentinya aku tertawa dibuat oleh tingkanhya yang konyol.Kak Dimas yang sederhana dan penuh dengan apa adanya yang bisa menarik hatiku.Keluguan dan perhatiannya membuatku simpati padanya.Dia lelaki pertama dalam hidupku yang membuat hatiku tak bisa aku tebak.Kemurnian hati dan kebaikannya sangat aku kagumi.Sungguh beruntung aku bisa mengenalnya.Andaikan dia bisa jadi milikku seutuhnya.Keinginan yang terselip dalam memori ingatanku segera menyadarkanku.
“Laila...hai Laila jangan melamun di jalan?”,teguran penuh perhatian membuyarkan lamunanku.
“Oh..iya Kak maaf”
“Kamu kenapa?”,tanyanya dengan wajah yang bertanya-tanya.
“Enggak....enggak ada apa-apa kok kak.Kakak sudah tahu jalan ke Wilis?”tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya.
Ia meberikan pengertian kepadaku karena sesungguhnya Kak Dimas juga belum tahu dimana Wilis itu.Tapi karena dia berasal dari Malang dan kebetulan Wilis juga berada di kabupaten Malang jadi dia optimis bisa menemukan dimana Wilis berada.Wilis adalah pusat perdagangan buku yang bisa dibilang lengkap.Banyak mahasiswa yang bersedia jauh-jauh mencari buku ke sana.Ketika kami sampai di Alun-alun Kabupaten Malang kami berhenti untuk bertanya alamat Wilis.Kami turun dari sepeda dan dia menyuruhku menunggunya.Dia berjalan menuju kios kecil di ujung Alun-alun.Disana bekumpul ibu-ibu.Ia betanya dengan akrabnya.Lalu di kembali berjalan menghampriku.
“Bagaimana?”,tanyaku sambil menatap wajahnya yang mulai agak serius berfikir.Aku jadi merepotkannya.Dia tak menjawab pertanyaanku hanya menyuruhku untuk naik.Kami melanjutkan perjalan.
“Tenang saja La.Kita pasti sampai di Wilis kok”.Ucapnya menenangkan hatiku.
“Tahu tidak ibu-ibu tadi lucu semua.Masak mintak foto bareng sam aku”,dia bercerita sambil tertawa ringan.Aku juga ikut tertawa.
”Kakak kayak artis kali hehehe..”,timpalku.
“Tapi aku nggak mau foto sama mereka”
“Kalau foto sama aku gimana?”,sergahku.Sebenarnya aku malu mengatakannya tapi pengen tahu saja bagaimana ekspresinya.
“Boleh....malah berharap hehehe.”jawabnya dengan bercanda.
Aku tahu sebenarnya Kakak juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.Tapi aku tak tahu apa yang membuatmu tak mau bicara tentang perasaanmu padaku.Dalam hatiku terasa ketenangan mendekapku ketika aku bersamamu Kak.Aku benar-benar mengetahui perasaan apa ini?.Aku sangat menyayangiku Kak.Perasaan yang ingin menjaga hatimu.Tak ingin membuatmu sakit maupun kecewa.Yang ingin membuatmu bahagia.Yang ingin melihat senyum selalu mengembang di bibirmu.
Gerimis mulai berdatangan.Tapi Alhamdulillah alam masih memihak kami dengan tidak jadi menurunkan hujan.Langit seperti membiarkan kami berdua menikmati perjalan yang penuh merah jambu meski langit kelabu..Aku tahu dia belum sarapan.Pasti dia lapar.Aku mengkhawatirkan kondisi tubuhnya.Meski dia sudah menjelaskan bahwa dia akan baik-baik saja.Tapi aku tetap mengkhawatirkannya.Dalam perjalanan dia menunjukkan berbagai tempat padaku.Entah itu tempat wisata maupun universitas yang ada di Malang.Ketika kami melewati universitas Muhammadya Sidoarjo.Perasaan kagum menyerbak dalam hatiku.Sungguh besar dan elegantnya gedung pendidikan tinggi itu.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan setelah beberapa jam melakukan perjalan yang panjang.Disana mata kami disambut dengan hamparan buku-buku yang tak terhitung jumlahnya tertata dalam setiap tempat yang bersekat-sekat.Para penjualnya dengan ramah menawarkan buku mereka.Aku menggandeng tangannya Kak Dimas.Tepatnya tanpa sengaja.Tapi aku tak melihat reaksi penolakan dari garis mukanya.Kami sepeti melebur dalam dunia buku,terutama aku.Sudah lama kami berwisata dalam tempat itu.Kumelirik wajah Kak Dimas,terlihat rasa capek menderanya.Aku kasihan melihatnya.Aku segera membeli beberapa buku dan dia juga membeli buku cerita untuk keponakannya Riski.Tak beberapa lama kami keluar dari pusat perdagangan buku itu.Aku menawarkan nasi goreng yang kubuat dengan penuh sayang padanya.Tapi ia menolak karena tak ada tempat yang nyaman untuk makan.Aku tak berani bicara. Aku mengikuti saja keman ia membawaku.
Hari mulai beranjak.matahari berada di atas kepala kami.Namun udara pegunungan mengalahkan rasa panas matahari.Hanya dingin dan kesejukan yang menyelimuti kami.Dia menghentikan motornya tepat di sebuah tempat makan di daerah yang sejuk.Warung makan yang menyediakan tempat yang tidak mengecewakan.Kami memesan makanan.Kami memilih tempat yang nyaman untuk makan.Ketika kami menunggu makanan kami bertukar perasaan dalam perjalan ini.Aku teringat nasi goreng yang spesial aku buatkan untuknya.
“Oh iya Kak,tadi aku buat nasi goreng untuk Kakak.Sekarang dimakan ya!”,pintaku agak manja.Sekali-kali manja bolehkan.Dia terlihat senang ketika melihat kotak kecil berisi makanan itu.Dia merasa menjadi orang yang spesial.Ia memakannya namun aku yakin nasi goreng itu sudah tida enak dimakan karena sudah dingin.Dia memohon izin padaku untuk tidak menghabiskannya karena dia sudah kenyang.Aku beri pengertian yang penuh hormat padanya.Tak lama makanan kami datang.Dia meminum Capucino hangat sedang aku meminum susu coklat hangat.Makanannya kami sehati,mie goreng yang hangat.Sebelum dia makan.Aku mengambil sendok dan menyuapi dia dengan makananku.
“Ini yang pertama buatmu”,sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.Dalam hati aku sangat senang bisa melakukan hal ini bersama dengan orang yang sangat aku sayanngi.Kumelirik dia.Sepertinya dia ingin melakukan hal yang sama sepertiku,namun dia urungkan karena dia malu.Melihat tamu yang sedang makan jagung bakar aku juga ingin makan.Ternyata dia mengetahui keinginanku dan memesankan satu untukku.Kenapa Cuma satu karena perutnya sudah kenyang.
“Rasa apa Laila?”,tanyanya
“Ehmm....pedas manis saja Kak?”,jawabku dengan tersipu malu.Padahal aku orang yang anti dengan makanan yang pedas mengapa aku tadi pilih rasa pedas.Ketika jagung itu datang,aku menyuruhnya untuk mencoba terlebih dahulu.Pertama dia menolak tapi aku membujuknya sehingga dia mau makan satu jagung berdua denganku.Oooh....indahnya dunia.Seperti milik berdua saja yang lain numpang.Hehehe.
“Kak maaf,da makanan di pipi Kakak”,sambil mengambil sapu tangan.
“Bolehkah aku membersihkannya”,pintaku.Namun diamnya berarti mengiyakan.Ku usap sisa makanan dari jagung yang menempel manja di pipinya.Aku tahu matanya sedang memperhatikanku.Tapi aku tak berani menatap matanya.Padahal dalam hatiku merasa bahagia sekali bisa sedekat ini dengannya.Dia duduk persis di sampingku.
“Minum susu coklat mu,sayang”,katanya
Aku terdiam dengan terkejutnya.Apa dia bilang sayang padaku.Aku melihat ke arahnya dengan tatapan tak percaya.Dia mengetahui keterkejutanku’
“Oh..maaf.Aku salah panggil”,katanya mengklarifikasi hal itu.
‘Kakak perna mendengar cerita tentang Rasulullah dengan Khadijah?”,tanyaku untuk menetralisir keadaan yang membuatnya tak enak padaku.
“Belom La,emang kenapa?”
“Cerita yang sangat mengharukan dan cerita cinta sejati,Kak.Perjalan cinta yang indah.Perjalan cinta yang dinaungi keridhoan Allah.Sepasang kekasih yang halalan thoyyibah yang dipertemukan dan dipisahkan karena Allah.Seorang Khadijah adalah sosok istri yang sholehah.Menjadi tempat yang dapat menentramkan hati Rasulullah.Tempat berbagi suka dan duka bersama.Tempatmencurahkan segala kepenatan.Sepasang suami istri yang berkomitmen dengan kesetiaan luar biasa.Rasulullah sangat mencintai Khadijah meski pebedaan umur mereka terpaut jauh.Rumah tangga yang barokah dengan dasar cinta karena Allah.Tahukah sabda Nabi kepada istrinya Aisyah yang ketika itu cemburu dengan Khadijah meski Khadijah sudah meninggal?”,tanyaku pada kakak.
“Apa,Rasul berkata apa?”,tanyanya dengan ekspresi ingin tahu.
“Dia(Khadijah)yang beriman ketika semua orang mengingkariku.Dia yang meletakkan harta di tanganku ketika semua orang merampasnya dariku.Dan darinya aku mendapatkan keturunan yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain”
”tapi maaf ya Kak kalu referensi ini sedikit salah atau kurang karena aku sedikit lupa”,lanjutku.
“Berarti Rasulullah sangat mencintai Khadijah ya La?”
“Iya Kak,tepatnya sangat mencintai Khadijah.Aku ingin menjadi wanita seperti Khadijah Kak”
“Wah..harapan yang bagus.Oh iya sudah siank ayo kita lanjutkan perjalana kita”.ajaknya.
“Iya Kak”
Andai kau tahu aku ingin menjadi Khadijah untukmu Kak.Aku ingin menjadi yang halalan thayyibah nantinya untukmu.Aku ingin membangun keluarga yang sholehah bersamamu.
“Ayo naik.Kenapa diam saja?”
“Enggak ada apa-apa kok kak.Ayo,tapi nanti kita sholat dhuhur dulu ya”
Akhirnya Kak Dimas mengajakku mampir ke rumahnya yang berada di Malang.Dalam perjalan kami singgah di sebuah Masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur.Ketika hendak melanjutkan perjalanan hujan deras mulai menampakkan dirinya.Kami berhenti untuk berteduh di pinggir pos kamling yang aku tiada tahu nama tempat itu.Dia meminta izin untuk melanjutkan perjalannya meski kondisi masih hujan.Aku mengiyakan.Lalu dia mengambil jas hujan yang berada di jok sepedanya.Dan kamipun melanjutkan perjalanan.
Pukul setengah tiga sore kami sampai dirumahnya.Perasaanku penuh tanda tanya,rasa malu dan takut memenuhi segala ruang di hatiku.Dia mengajakku masuk rumah.Rumah yang sederhana namun sangat nyaman dengan suasana pedesaan yang masih murni.Dari dalam muncul sosok wanita dan lelaki yang Kak Dimas biasa panggil emak dan bapak.Hahh...hatiku rasanya berdebar-debar ketika bertemu kedua orang tuanya.Namun ketakutan mulai sedikit terkikis oleh kehangatan ibunya Kak Dimas.Keluarganya baik padaku.Yapak ayahnya Kak Dimas tidak berkata apa-apa.Aku bingung haruskah aku bicara.Aku putuskan untuk diam saja sambil membenankan mataku menatap kelantai rumah Kak Dimas.Kak Dimas berpamitan sebentar untuk membeli minuman sari apel pesanan kakaknya yang berada di Surabaya.Aku ditinggak bertiga dengan ayah dan ibu kak dimas.Aku bingung harus melakukan dan berbicara apa.Aduh aku takut.”Kak Dim,jangan lama-lama”,jeritku dalam hati.
“Ayo nduk dimakan jajannya.Ya emnag ndak ada makanan yang enak.Cuma makanan orang desa”,ujar ibu dengan perhatian.
“Iya bu”.Aku lalu meminuh teh hangat yang sudah dibuatkan ibu.
“Cari apa nduk di Malang?”
“Cari buku buk,di Wilis”
“Owh..”,kata ibu mengeri.Tak beberapa lama kemudian Kak Dimas datang.Ibunya menyuruh Kak Dimas agar segera mengajakku makan.Aku tak mau tapi Kak Dimas terus membujukku.Dia perhatian sekali padaku.Dia memberiku obat sakit kepala.Dia tahu bahwa perjalanan yang panjang melelahkan tubuhku dan sedikit mebuat kepalaku pusing.Diruang makan kami bercanda dan ngobrol.Waktu juga yang harus memisahkan aku dan keluarga Kak Dimas.Ada adiknya Kak Dimas yang masih duduk dibangku SMP dan ada juga kakak perempuannya Kak Dimas yang datang ke rumah.Namanya Kak Mirna,kakak perempuannya yang sudah menikah dan punya dua anak.Kak Dimas mempunyai empat saudara.Meski sudah memiliki dua anak Kak Mirna masih terlihat muda dan cantik.Sungguh beuntung hidupmu Kak punya keluarga yang sungguh menyenangkan.
Akhirnya kami berpamitan pulang.Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa Kak Dimas untuk keluarga kakaknya di Surabaya.
“Buk kami pami pamit pulang dulu”,pinta Kak dimas sambil mencium tangan ibu dan Ayahnya.Aku pun mengikuti langkah Kak Dimas.Aku mencium kedua tangan orang tuanya.Tak lupa juga aku berpamitan pada Kak Mirna.Ketika Kak Dimas menyiapkan sepedanya.Tetangganya menyapa”Lo..mau balik ke Surabaya Dim?”
“Iya bank..”
“Wach sudah punya cewek yach.Nunggu waktuyang baik ya”,canda tetangganya.
“Wach.Abang salah.Ini anak orang.Nanti aku bisa di marah-marahin..hehe..”
“Kami balik dulu ya Pak,Buk”.
Dalam perjalanan kami bercengkrama dan melantunkan lagu kesukaan masing-masing.Kami juga berduet melantunkan shalawat kepada Rasul kita,Muhammat saw.Owh..indahnya perjalan si merah jambu.Bagaimana hubungan kami setelah ini?.Aku tak tahu.Biarlah kisah kami Allah yang menentukan.Aku berharap dia jodohku alias soulmetku.Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar